Member Login

Yang DIsunnahkan Saat Melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan

Selasa, 06 Desember 2016 - 10:23:35 WIB , author : Administrator,Kategori : Artikel , Dibaca : 53

ORANG yang berpuasa di bulan Ramadhan disunnahkan melaksanakan hal-hal berikut:

1. Makan sahur walaupun sedikit, meski hanya seteguk air. Disunnahkan menangguhkan sahur ini sampai akhir malam. Fungsi sahur untuk menguatkan tubuh dalam menjalani puasa, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits Bukhari dan Muslim,

“Makan sahurlah kalian, sebab dalam sahur itu terkandung berkah.”

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Hakim dalam Shahih-nya dinyatakan,

“Makan sahurlah kalian agar lebih kuat dalam menjalani puasa, dan tidur sianglah agar kalian lebih kuat dalam menunaikan shalat Tahajud.”

Hadits riwayat Ahmad rahimahullah menyatakan,

“Makan sahur itu berkah. Maka, janganlah kalian meninggalkannya meskipun hanya dengan minum seteguk air sebab Allah Azza wa jalla dan para malaikat-Nya bershalawat untuk orang-orang yang makan sahur.”

Adapun anjuran untuk mengakhirkan sahur didasarkan atas hadits riwayat ath-Thabrani,

“Ada tiga perkara yang termasuk akhlak para rasul: menyegerakan buka puasa, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.”

Juga, didasarkan atas riwayat Ahmad,

“Umatku akan baik-baik saja selama mereka menyegerakan buka puasa dan mengakhirkan sahur.” (Diriwayatkan Ahmad dari Abu Dzar)

2. Menyegerakan buka puasa sebelum shalat Maghrib. Disunnahkan berbuka puasa dengan kurma matang, kurma kering, manisan, atau air putih, serta dianjurkan jumlahnya ganjil (tiga biji atau lebih). Anjuran ini mengikuti hadits yang berbunyi,

“Orang-orang akan baik-baik saja selama mereka menyegerakan buka puasa.” (Muttafaq ‘alahi dari Sahal bin Sa’d)

Ahmad dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah,

“Allah Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya hamba-Ku yang paling Kucintai adalah yang paling dahulu berbuka.”

Buka puasa sebelum shalat lebih afdhal karena Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam pun berbuat demikian. (Diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah). Sedangkan anjuran untuk berbuka dalam jumlah gasal didasarkan atas hadits Anas,

“Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam biasa berbuka dengan beberapa biji kurma matang sebelum menunaikan shalat Maghrib. Kalau tidak ada kurma matang, beliau berbuka dengan kurma kering. Kalau tidak ada kurma kering, beliau minum beberapa teguk air.” (Diriwayatkan Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi)

3. Disunnahkan berdoa, karena orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak akan tertolak. Dalam sebuah hadits dinyatakan,

“Bagi orang yang berpuasa, pada waktu berbuka, ada doa yang tidak tertolak.” (Diriwayatkan Ibnu Majah dari Abdullah bin Amr)

4. Memberi buka kepada orang yang berpuasa, meskipun hanya dengan sebutir kurma atau seteguk air. Lebih sempurna jika memberi buka puasa dengan makanan yang mengenyangkan. Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda,

“Barangsiapa memberi buka kepada orang yang berpuasa, niscaya dia mendapatkan seperti pahalanya, tanpa berkurang sedikit pun pahala orang yang berpuasa tersebut.” (Diriwayatkan at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dari Zaid bin Khalid)

5. Mandi dari junub, haid, dan nifas sebelum terbit fajar supaya berada dalam keadaan suci sejak awal puasa, di samping untuk menghindari perbedaan pendapat Abu Hurairah yang mengatakan bahwa puasanya tidak sah (maksudnya puasanya tidak sah jika masih belum mandi sampai terbit fajar). Juga karena dikhawatirkan air akan masuk ke dalam telinga, anus, dan lubang tubuh lainnya. Berdasarkan hal ini, hukumnya makruh (menurut madzhab Syafi’i) bagi orang yang berpuasa masuk pemandian air panas tanpa ada hajat. Sebab, bisa jadi dirinya akan mengalami mudharat sehingga dia terpaksa berbuka. Juga, karena masuk pemandian air panas tergolong sikap bermewah-mewah yang tidak sejalan dengan hikmah puasa. Jika dia tidak mandi sama sekali (dari junub, haid, dan nifas), puasanya tetap sah, tapi dia berdosa lantaran mengerjakan shalat tanpa bersuci.

Jika wanita yang haid atau nifas telah suci pada malam hari dan dia berniat puasa serta menunaikan puasa, atau orang yang junub berpuasa tanpa mandi, maka puasa mereka sah, dengan dalil firman-Nya,

“…Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu…” (al-Baqarah: 187)

Hal ini juga didasarkan atas hadits Bukhari dan Muslim,

“Pada pagi hari Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam pernah dalam keadaan junub karena jimak, bukan karena mimpi, kemudian beliau mandi dan berpuasa”

Adapun riwayat Bukhari yang berbunyi,

“Barangsiapa berada dalam keadaan junub di pagi hari, maka puasanya tidak sah,” diartikan oleh para ulama bahwa yang dimaksud adalah orang yang pada pagi hari sedang berjimak tapi masih meneruskan jimaknya (padahal fajar sudah terbit).

6. Menahan lidah dan anggota tubuh lainnya dari perkataan sia-sia dan perbuatan-perbuatan yang tiada dosanya. Adapun menahan organ tubuh dari perbuatan haram (seperti ghibah, adu domba, dan dusta), yang mana hukumnya wajib di setiap waktu, semakin ditekankan dalam bulan Ramadhan. RasulullahShalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda,

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka tiada pahala yang didapatnya dengan meninggalkan makanan dan minumannya.” (Diriwayatkan Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dari Abu Hurairah)

Beliau bersabda pula,

“Betapa banyak orang berpuasa yang dengan puasanya hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga, dan betapa banyak orang yang shalat tahajud hanya mendapatkan rasa kantuk.” (Diriwayatkan ath-Thabrani dari Ibnu Umar)

Jika dia dicaci orang lain, dalam bulan Ramadhan disunnahkan baginya mengucapkan dengan suara keras (bukan dalam hati), “Aku sedang puasa!” Dalilnya adalah hadits Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah,

“Apabila seseorang sedang berpuasa, janganlah dia berkata jorok maupun berbantah-bantahan. Jika ada orang yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaknya dia berkata, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”‘

Adapun di luar bulan Ramadhan, dia mengucapkannya dengan suara samar untuk memperingatkan dirinya sendiri dengan kalimat itu, karena dikhawatirkan dia akan riya’ (jika mengucapkannya secara lantang).

7. Menjauhi benda-benda pemuas kesenangan yang mubah yang tidak membatalkan puasa, misalnya benda-benda yang dinikmati dengan cara didengar, dipandang, diraba, atau dicium aromanya (seperti menikmati aroma raihan, mengusapnya, dan memandanginya). Sebab, perbuatan seperti ini mencerminkan sikap bermewah-mewah yang tidak sesuai dengan hikmah puasa. Semua itu hukumnya makruh bagi orang yang berpuasa, sama seperti hukum masuk pemandian umum air panas.

8. Memberi kelapangan kepada keluarga, berbuat baik kepada kerabat, dan memperbanyak sedekah kepada kaum fakir miskin. Dalam hadits Bukhari dan Muslim disebutkan,

“Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau paling bersikap dermawan pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemui beliau.”

10. Mengisi waktu dengan mempelajari ilmu, membaca Al-Qur’an dan membacakannya kepada orang lain, berdzikir, serta mengucapkan shalawat kepada Nabi Shalallaahu ‘Alahi Wasallam pada setiap kesempatan yang memungkinkan


Komentar

© 2016 Rumil Al Hilya