Member Login

Benarkah LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) Bisa Memiliki Keturunan?

Jumat, 29 Desember 2017 - 16:00:26 WIB , author : Administrator,Kategori : Artikel , Dibaca : 66

Benarkah LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) Bisa Memiliki Keturunan?

Mungkin ada beberapa orang  yang masih belum tahu apa itu LGBT yang sangat meresahkan umat muslim saat ini. Ada baiknya kita bahas dulu mengenai apa itu LGBT menurut pandangan islam.

 

Dalam Islam LGBT dikenal dengan dua istilah, yaitu Liwath (gay) dan Sihaaq (lesbian). Liwath (gay) adalah perbuatan yang dilakukan oleh laki-laki dengan cara memasukan dzakar (penis)nya kedalam dubur laki-laki lain. Liwath adalah suatu kata (penamaan) yang dinisbatkan kepada kaumnya Luth ‘Alaihis salam, karena kaum Nabi Luth ‘Alaihis salam adalah kaum yang pertama kali melakukan perbuatan ini (Hukmu al-liwath wa al-Sihaaq, hal. 1). Allah SWT menamakan perbuatan ini dengan perbuatan yang keji (fahisy) dan melampui batas (musrifun). Sebagaimana Allah terangkan dalam al Quran yang artinya :

 

 “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan o;leh seorangpun (di dunia ini) sebelummu. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (TQS. Al ‘Araf: 80-81)

 

Sedangkan Sihaaq (lesbian) adalah hubungan cinta birahi antara sesama wanita dengan image dua orang wanita saling menggesek-gesekkan anggota tubuh (farji’)nya antara satu dengan yang lainnya, hingga keduanya merasakan kelezatan dalam berhubungan tersebut (Sayyid Sabiq, Fiqhu as-Sunnah, Juz 4/hal. 51).

 

Hukum Sihaaq (lesbian) sebagaimana dijelaskan oleh Abul Ahmad Muhammad Al Khidir bin Nursalim Al Limboriy Al Mulky (Hukmu al liwath wa al Sihaaq, hal. 13) adalah haram berdasarkan dalil hadits  Abu Said Al Khudriy yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim (no. 338), At-Tirmidzi (no. 2793) dan Abu Dawud (no. 4018) bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

 

 

“Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain, dan jangan pula seorang wanita melihat aurat wanita lain. Dan janganlah seorang laki-laki memakai satu selimut dengan laki-laki lain, dan jangan pula seorang wanita memakai satu selimut dengan wanita lain”

 

Terhadap pelaku homoseks, Allah SWT dan Rasulullah SAW benar-benar melaknat perbuatan tersebut. Al Imam Abu Abdillah Adz-Dzahabiy -Rahimahullah- dalam Kitabnya “Al Kabair” [hal.40] telah memasukan homoseks sebagai dosa yang besar dan beliau berkata: “Sungguh Allah telah menyebutkan kepada kita kisah kaum Luth dalam beberapa tempat dalam Al Quran Al Aziz, Allah telah membinasakan mereka akibat perbuatan keji mereka. Kaum muslimin dan selain mereka dari kalangan pemeluk agama yang ada, bersepakat bahwa homoseks termasuk dosa besar”.

 

Hal ini ditunjukkan bagaimana Allah SWT menghukum kaum Nabi Luth yang melakukan penyimpangan dengan azab yang sangat besar dan dahsyat, membalikan tanah tempat tinggal mereka, dan diakhiri hujanan batu yang membumihanguskan mereka, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Hijr ayat 74 yang artinya :

 

 “Maka kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras”

 

Secarah fitrah, manusia diciptakan oleh Allah SWT berikut dengan dorongan naluri dan jasmaninya. Salah satu dorongan naluri manusia adalah naluri untuk melestarikan keturunan yang diantara manifestasinya merupakan rasa cinta dan dorongan seksual antara lawan jenisnya.

 

            Kemudian pada fenomena saat ini yang menjadi pertanyaan besar adalah mengenai apakah kaum LGBT bisa mempunyai keturunan? karena Keturunan merupakan unsur yang penting bagi suatu clan, suku ataupun kerabat yang menginginkan dirinya tidak punah, yang menghendaki supaya ada generasi penerus.  Sedangkan keturunan yang sah dalam islam itu harus melalui sebuah pernikahan yang sah. Syarat sah Pernikahan menurut islam yaitu:

1.      Pengantin lelaki (calon suami)

2.      Pengantin perempuan (calon isteri)

3.      Wali nikah dari pihak calon pengantin perempuan

4.      Saksi laki-laki sebanyak dua orang

5.      Ijab dan Kabul yang terjadi pada proses akad nikah

 

Lalu jika kita lihat pada kaum LGBT, mungkin mereka juga melakukan pernikahan. Tapi apakah pernikahan mereka sah? Jelas tidak. Karena mereka tidak memenuhi syarat sah pernikahan. Belum lagi saat kita membahas mengenai keturunan daripada kaum LGBT tersebut.

           Yang sedang ramai dibicarakan saat ini adalah mengenai pendapat seorang presenter kondang Jeremy Teti, yang menyatakan bahkan kaum gay bisa mempunyai keturunan melalui penyewaan rahim (perempuan).

Menurut ilmu kedokteran sendiri, yang disebut dengan sewa rahim ialah perempuan yang menampung pembuahan suami-istri dan diharapkan melahirkan anak hasil pembuahan. Apalagi, dengan ditemukannya metode pengawetan sperma, frekuensi penggunaannya kian meningkat. Pelaksanaannya pun menuai pro dan kontra. Prof Hindun al-Khuli menjelaskan problematika ini dalam bukunya berjudul Ta'jir al-Arham fi Fiqh al-Islami. Ia memaparkan beberapa bentuk kasus sewa rahim berikut hukum penggunaannya dalam perspektif hukum Islam. Perbedaan pandangan muncul lantaran praktik modern di bidang kedokteran ini belum pernah mengemuka pada era awal Islam. 

Ia mengatakan, para ulama sepakat, tiga bentuk praktik 'ibu pengganti' berikut ini diharamkan. Pertama, fertilasi tersebut menggunakan sel telur dan sperma orang asing (bukan suami istri). Sel telur dan sperma tersebut diperoleh dari pendonor tersebut dengan kompensasi materi tertentu. Hasilnya, kemudian diletakkan di rahim perempuan yang telah ditunjukkan untuk kepentingan orang ketiga. 

Contoh kasus kedua yang diharamkan ialah sperma diambil dari suami dari pasangan yang sah, sedangkan sel telur dan rahim adalah milik perempuan yang bukan istrinya. Bayi yang lahir dari rahim yang bersangkutan, akan diserahkan kepada pasangan suami istri yang sah tersebut.

Sedangkan, praktik sewa rahim ketiga yang tidak diperbolehkan dalam agama ialah bila sel telur berasal dari istri yang sah, tetapi sperma yang digunakan untuk pembuahan bukan kepunyaan suaminya, melainkan hasil donor dari laki-laki lain. Rahim yang digunakan pun bukan rahim sang istri, melainkan perempuan lain. Setelah lahir, bayi lalu diserahkan kepada pemilik sel telur, dalam hal ini ialah sang istri dan suaminya, yang mandul. 

Mungkin rasanya terlalu jauh jika kita membahas mengenai sewa rahim tersebut. Singkatnya, kehamilan terjadi ketika sel sperma dari pria bertemu dengan sel telur dari wanita. Proses inilah yang dinamakan sebagai pembuahan atau konsepsi yang nantinya akan berproses menjadi janin. Sedangkan kaum gay sendiri adalah laki-laki dengan laki-laki yang berarti jika mereka melakukan hubungan intim  maka tidak akan pernah terjadi yang namanya proses pembuahan karena tidak ada proses sel sperma yang bertemu dengan sel telur tersebut. Kemudian selanjutnya laki-laki juga tidak di design untuk memiliki rahim layaknya perempuan. Begitupun sebaliknya pada kaum lesbian. Allohu A’lam Bissawwab.. semoga Allah senantiasa melindungi kita dari penyakit kaum LGBT. Aamiin.



Komentar

© 2016 Rumil Al Hilya