Member Login

KH. Muhammad Al Khaththath

Buah Ibadah Ramadhan adalah Pengendalian Hawa Nafsu

Minggu, 29 Oktober 2017 - 13:50:31 WIB , author : Administrator,Kategori : Kajian Dalam , Dibaca : 109

Kaum muslimin rahimakumullah,

Allah SWT berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
(QS. Ali Imran 14).
 
Di dalam Tafsir Jalalain diterangkan bahwa syhawat, yakni apa saja yang diingini oleh manusia, baik wanita, anak-anak, uang emas (dinar) dan perak (dirham), dan lain-lain dihiaskan oleh Allah SWT sebagai ujian dan dihiaskan oleh syetan. Tentu bila syetan yang menghiaskan hal tersebut adalah godaan sesuai garis-garis besar haluan Iblis untuk membawa seluruh keturunan anak Adam ke dalam neraka jahanam. Strategi utama Iblis adalah menghiaskan seluruh maksiat kepada anak Adam as. untuk menyesatkan mereka.

Allah SWT berfirman:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
 
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau Telah memutuskan bahwa Aku sesat, pasti Aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti Aku akan menyesatkan mereka semuanya, (QS. Al Hijr 39).
 
Ibnu Abbas r.a. menerangkan dalam tafsirnya bahwa syahwat itu dibaikkan dalam hati manusia sebagai kelezatan yang diinginkan, baik kepada perempuan, anak-anak, maupun harta yang dikumpulkan berupa emas, perak, maupun harta berupa kuda, ternak, dan sawah ladang yang merupakan perhiasan yang bisa dimanfaatkan manusia dalam hidup di dunia. Ibnu Abbas mengatakan bahwa kata “qanathiir dan muqantharah” berasal dari kata qinthar. Qinthar adalah besaran senilai 1200 dinar. Qanathir artinya 3 qinthar sedangkan muqantharah artinya 9 qinthar. Jika 1 dinar setara dengan 2,5 juta rupiah, maka 1 qinthar = 3 M rupiah, dan qanathir = 9 M rupiah, sedangkan muqantharah = 27 M rupiah. Uang yang begitu banyak.  Pantas manusia suka sekali.
 
Kaum muslimin rahimakumullah,
 
Sungguh “hubbus syahawat “ atau cinta kepada wanita dan segala macam harta di atas adalah naluri (gharizah) yang Allah ciptakan untuk manusia sehingga manusia punya keinginan dan dorongan untuk memuaskan syahwatnya itu. Hanya saja keinginan dan dorongan memuaskan syahwat itu tidak boleh dibiarkan lepas tanpa kendali, sebab itu berbahaya dan justru akan merusak kehormatan dan akan menjatuhkannya kepada martabat hewan bahkan lebih rendah lagi. 
 
Islam sebagai agama Allah yang sempurna (QS. Al Maidah 3) telah mensyariatkan agar orang-orang mukmin menikahi wanita yang baik, bahkan 2, 3, atau 4 dengan catatan wajib berbuat adil kepada para wanita yang dinikahi sesuai syariat Islam itu. Islam mengharamkan hubungan mengumbar syahwat tanpa pernikahan, yakni hubungan zina atau seks bebas. Islam menilai zina adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk yang tidak boleh dimasuki.  Allah SWT berfirman:
 
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al Isra 32).
 
Bahkan untuk menutup pintu-pintu yang bisa mengantarkan kepada keburukan itu, Islam mensyariatkan berbagai hal seperti mengatur kehidupan komunitas pria terpisah dengan komunitas wanita, dalam sholat jamaah pria wanita tidak campur baur, larangan khalwat, dan perintah menundukkan dan mengalihkan pandangan terhadap lawan jenis.
 
Dan ibadah shaum yang artinya adalah menahan diri untuk tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan suami istri sejak terbit fajar (waktu subuh) sampai tenggelamnya matahari (waktu maghrib) setiap hari selama bulan Ramadhan yang kita jalani adalah syariah yang Allah SWT tetapkan untuk kita berlatih mengendalikan hawa nafsu kita agar senantiasa tunduk kepada hukum syariat Allah SWT. 

Sebab, kalau berhubungan intim dengan istri yang di bulan lain atau di malam Ramadhan dihalalkan, bisa kita tahan diri untuk tidak melakukannya semata-mata karena tunduk atas perintah shiyam dari Allah (QS. Al Baqarah 183), maka insyaallah kita sanggup menahan gejolak syahwat kepada wanita secantik apapun menakala itu adalah bukan istri kita karena kesadaran kita bahwa hubungan intim dengan selain istri adalah zina dan zina adalah perbuatan keji dan jalan buruk yang diharamkan oleh Allah SWT buat kita mendekatinya (QS. Al Isra 32).
 
Kaum muslimin rahimakumullah,
 
Demikian juga dengan syahwat kita atas harta. Allah SWT tidak melarang dan mematikannya. Karena harta-harta berupa uang emas perak, kuda, ternak, sawah ladang, dan lain-lain adalah sarana kehidupan kita. Tetapi Allah SWT menurunkan syariah agar kita mencari harta dengan cara-cara yang halal dan sekaligus melarang memperoleh harta dengan cara-cara  yang haram. Allah SWT menghalalkan berburu, bertani, memproduksi barang industri, perdangan maupun jasa. Allah SWT berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (QS. Al Baqarah 275).
 
Allah SWT melarang kita memakan harta orang lain secara batil sebagaimana firman-Nya:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui.
(QS. Al Baqarah 188).
 
Kaum muslimin rahimakumullah,
 
Latihan ibadah shiyam dan qiyam Ramadhan kita sebulan penuh akan betul-betul berbekas dalam diri kita manakala kita mampu mengendalikan syahwat kita untuk hanya memenuhinya dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syariah Allah SWT. Hukum syariah Allah inilah yang merupakan petunjuk Allah yang wajib kita junjung tinggi dan kita taati agar perjalanan kita di dunia menuju akhirat bisa selamat dan tidak jatuh ke dalam jebakan iblis yang memanjakan hawa nafsu. Memandang dan terikat kepada hukum syariat Allah inilah (burhanu rabbih) yang dahulu telah menyelamatkan Yusuf a.s. sehingga menolak dorongan perbuatan memanjakan syahwat dengan seorang wanita cantik (Zulaikha) yang bukan istrinya. Allah berfirman:
 
وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu. Andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih. (QS. Yusuf 24).

Semoga di malam-malam kita di malam-malam lailatul qadar ini Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita dan berkenan mengaruniakan kepada kita kemampuan mengendalikan hawa nafsu kita sehingga selalu mengikuti hukum syariat yang dibawa oleh baginda Rasulullah saw.

Baarakallahu lii walakum ....



Komentar

© 2016 Rumil Al Hilya